Minggu, 08 Juni 2014

Pendidikan Agama Islam




Pendidikan Agama Islam

IPTEK DAN SENI MENURUT PANDANGAN ISLAM









 Oleh Kelompok 7:

Adziani Hera                  (125150400111059)

Rannie Fitriya Sari        (125150407111002)

Tri Nugroho G.              (125150407111003)

Kelas Sistem Informasi B


Dosen Pengampu:
Khalid Rahman, S.Pd.I., M.Pd.I

Sistem Informasi
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
2014
  






BAB I
PENDAHULUHAN

A.       LATAR BELAKANG
Di era modern perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Perkembangan IPTEK akan terus berkembang dari waktu ke waktu yang diikuti dengan perkembangan seni. IPTEK dan seni juga sangat berpengaruh bagi agama, salah satunya agama Islam. Islam sangat memperhatikan IPTEK dan seni dalam dalam kehidupan umat manusia. Keberadaan IPTEK, seni, dan manusia yang tidak akan pernah bisa terpisahkan tersebut kemudian memunculkan beberapa dampak terhadap kehidupan manusia didunia. Baik dampak positif maupun dampak negatif negatif.
Peran Islam dalam perkembangan IPTEK pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti bahwa aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua menjadikan syariah Islam (yang lahir dari aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan IPTEK, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan IPTEK jika telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sebaliknya jika suatu aspek IPTEK dan seni tersebut telah diharamkan oleh syariah, maka tidak boleh umat Islam memanfaatkannya walaupun ia dapat menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.











BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian IPTEK dan Seni
Dasar membaca dalam Islam adalah Iqra’ yang memiliki arti bacalah, telitilah, kajilah, atau amatilah. Sejak Adam sebagai manusia pertama dicipta telah dilengkapi dengan ilmu pengetahuan “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segalanya” {QS.2 Al Baqarah: 31}. IPTEK diberikan kepada manusia untuk mampu mengelola dunia agar mampu berinteraksi dengan lingkungan.
Definisi IPTEK sebagai singkatan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku sistem.(http://intanayuda8.wordpress.com/2013/05/13/ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-html/). Dalam sudut pandang filsafat ilmu, ilmu dengan pengetahuan sangat berbeda maknanya. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan, disistemasi dan di interpretasikan sehingga menghasilkan kebenaran obyektif serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah, sedangkan Pengetahuan  adalah apa saja yang diketahui oleh manusia baik melalui panca indra, instuisi, pengalaman maupun firasat. Jadi Ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan dapat dinalar serta diterima oleh akal. (http://yanaazhari.blogspot.com/)
Sedangkan menurut pandangan Islam, Al-Qur’an mengundang kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Manusia dituntut untuk mengembangkan akal pikirannya dengan mencari ilmu pengetahuan. Ada dua sumber ilmu, yaitu akal dan wahyu. Kedua sumber ilmu tersebut tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasul.
Dalam sudut pandang budaya dan teknologi merupakan salah satu unsure budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia dan sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa kesusahan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Atas dasar itulah Islam mewajibkan menuntut Ilmu.

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat.” (HR. Ibnu Abdul Barr)
Bahkan dalam Islam menuntut ilmu itu dilakukan tanpa batasan atau jangka waktu tertentu, ilmu mesti dilakukan sejak dalam buaian hingga ke liang lahad. Rasulullah bersabda:
“Tuntutlah ilmu dari dalam buaian hingga ke liang lahad”

Pesatnya perkembangan Sains dan Teknologi semakin terasa dari hari ke hari. Banyak hasil dari perkembangan Sains dan Teknologi yang tadinya diluar angan-angan manusia sudah menjadi keperluan harian manusia. Kita mengakui bahwa sains dan teknologi memang telah mengambil peranan penting dalam pembangunan peradaban material atau lahiriah manusia. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Imron 190-191 :

Artinya: ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Dari ayat ini dapat kita lihat, bahwa melalui pengamatan, kajian dan pengembangan sains dan teknologi, Allah menghendaki manusia dapat lebih merasakan kebesaran, kehebatan dan keagungan-Nya. Betapa hebatnya alam ciptaan Allah yang kebesaran dan keluasannya-pun manusia belum sepenuhnya mengetahui, maka sudah tentu Maha hebat lagi Allah yang menciptakannya.
Seni dari segi makna literal ialah halus, indah atau permai. Definisi umum seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia. Seni adalah sebuah keindahan yang dapat mengungkap rasa sampai jauh ke dalam jiwa seseorang. (http://mirabiela.wordpress.com/2008/10/10/pengertian/) Jadi, apabila pernah merasakan sebuah getaran keindahan yang begitu dalam dan membuat kita tidak dapat lagi melupakannya maka artinya kita sudah dapat menangkap arti kata seni dalam arti yang sebenarnya.  Kata seni berasal dari kata sani yang kurang lebih berarti jiwa yang luhur atau ketulusan jiwa.
Pandangan Islam tentang seni merupakan ekspresi keindahan yang dilekatkan dengan sifat Allah SWT. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala keserasian dan keindahan. Allah berfirman dalam surat Al-Qaaf ayat 6 :

“Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” [QS 50: 6].

B.       Sejarah dan Perkembangan Seni
Dalam perkembangannya, Islam merupakan Agama yang tidak hanya membawa tuntunan untuk beribadah dengan Allah SWT, melainkan Islam juga membawa pengaruh budaya dan seni. Kesenian dan kebudayaan Islam adalah bentuk kesinambungan dari kesenian pada zaman silam yang telah berkembang dan dicorakkan oleh konsep tauhid yang tinggi kepada Allah SWT. Kesenian Islam memiliki khazanah sejarahnya yang tersendiri dan unik. Kesenian Islam dikatakan telah berkembang sejak zaman Nabi Daud AS dan puteranya Nabi Sulaiman AS dan terus berkembang di zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian di zaman selepas kewafatan Nabi. Sampai sekarang kesenian Islam terus berkembang di dalam bentuk dan falsafahnya yang berorientasikan sumber Islam yang menitikberatkan kesejajaran dengan tuntutan tauhid dan syara’. (http://imammorati23.wordpress.com/2011/05/16/konsep-pengembangan-budaya-dan-seni-menurut-islam/)  

C.      Sikap Islam Terhadap Seni
Pada dasarnya, sesuatu yang indah itu disukai oleh Allah karena Dia Dzat yang Maha Indah dan menyukai yang indah. Islam mempunyai kriterianya sendiri untuk dijadikan sebagai pengukur atau pedoman bagi menentukan halal atau haramnya sesuatu karya seni itu. Kriteria pertama ialah seni atau karya seni itu harus baik, tidak merusakkan budi pekerti yang mulia serta tidak melalaikan orang dari beribadah dan mengingat Allah. Kriteria kedua atau kriteria yang tidak diperbolehkan ialah seni yang dapat merusakkan moral, melalaikan diri dari beribadah kepada Allah dan sekaligus melupakan-Nya. ( http://www.slideshare.net/AchmadZain/pandangan-seni-dalam-islam)

D.      Ciri-Ciri Kesenian Islam
Seni dijadikan sebagai alat menyebarkan agama dan memperkukuh amal kebajikan dan kebaikan dikalangan ummah. Hasil seni boleh menjadi faktor pendorong yang intensif bagi mengingati dan memuji Allah. Daya seni yang dikarunialan oleh Allah adalah bertujuan untuk menimbulkan keikhlasan dan kesedaran dalam diri manusia. Menurut perspektif Islam, daya kreatif seni adalah dorongan atau desakan yang diberikan oleh Allah yang perlu digunakan sebagai bantuan untuk memeriahkan kebesaran Allah.
       (http://pt.slideshare.net/coemaaripin/seni-dalam-islam-28561766)

E.       Paradigma Hubungan Agama dan IPTEK
Peran Islam dalam perkembangan IPTEK pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam).( http://akharil.blogspot.com/2010/03/iptek-menurut-pandangan-islam.html)
Manusia menjadi khalifah memegang mandat dari Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Manusia diberi wewenang kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis dan penuh tanggung jawab.
Manusia sebagai keturunan Adam adalah khalifah atau manajer di bumi “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi; Mereka menjawab mengapa Kau akan menjadikan Adam/manusia sebagai khalifah di muka bumi padahal cendrung membuat kerusakan dan peperangan, sementara kami selalu mensucikan dan memuji Kau; Tuhan menjawab Aku lebih tahu apa yang kau tak ketahui” (QS. 2 Al Baqarah ; 30), terkait dengan kedudukan dan tugas manusia sebagai pengelola di bumi.
IPTEK adalah kelengkapan hidup manusia agar mampu dengan mudah mengelola dunia sesuai dengan kedudukan manusia sebagai khalifah. Berkembang atau tidaknya IPTEK sangat bergantung pada keberanian manusia untuk mengkaji ilmu pengetahuan berdasarkan Al-Qur’an. Ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) dalam Islam, Allah memerintah agar manusia mau membaca fenomena alam “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dialah yang menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pengasih; Yang mengajar dengan perantaraan baca-tulis; Dan mengajarkan manusia segala yang tidak diketahuinya” ( QS. 96 Al ‘Alaq: 1-5). 

F.       Integrasi Iman, IPTEK, dan Seni
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yg disebut dinul Islam. Di dalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu akidah, syariah, dan akhlak (iman, ilmu, dan amal shalih). Sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim (14:24-25) 


Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik(Dinul Islam) seperti sebatang pohon yg baik,akarnya kokoh(menghujam ke bumi)dan cabangnya menjulang ke langit”.
Ayat di atas menganalogikan bangunan Dinul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik, iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/ cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni.
Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah akan memberikan jaminan kebaikan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Pengembangan IPTEK dan seni yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan manfaat bagi umat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.( http://afindonesia.com/iman-ipteks-dan-akal/).

G.      Keutamaan Orang Berilmu
Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, beliau tidak pernah meminta kepada Allah untuk ditambahkan kepada beliau kecuali ilmu.
Selain itu, dalam surah Az-Zumar: 9 dan Al-Hasyr: 20, Allah membandingkan antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui dan ahli surga dengan ahli neraka dengan redaksi yang mirip. Hal ini menunjukkan bahwa beda derajat orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu adalah sama dengan beda derajat ahli surga dengan ahli neraka.
Tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti daripada sholatnya orang yang tidak berilmu. Hal ini bisa terjadi karena tidurnya orang yang berilmu pastilah bertujuan untuk istirahat agar dia mampu beribadah lagi kemudian.   ( http://matasalman.com/keutamaan-orang-yang-berilmu/ )
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka  telah mengambil bagian yang banyak" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Imam Syafi’i pernah berkata “Menuntut ilmu lebih afdhol daripada shalat nafil (shalat tahajjud)”.
Tentang keutamaan orang yang berilmu, di dalam Al-Qur’an surat Al Mujadalah:11, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Derajat yang diberikan Allah berupa kemuliaan pangkat, kedudukan, jabatan, harta dan kelapangan hidup.
Dan kelebihan mereka yang beriman lagi berilmu dibandingkan orang yang beriman tapi tidak berilmu sangat nampak dalam hadits Abu Ad-Darda` di atas yaitu (http://al-atsariyyah.com/keutamaan-ilmu.html) :
1.      Dia akan dinaungi oleh para malaikat dengan sayap-sayap mereka.
2.      Segala sesuatu akan memintaampunkan dosanya kepada Allah mulai makhluk yang berada di bawah lautan sampai makhluk yang ada di atas langit (para malaikat).
3.      Dia diibaratkan sebagai bulan yang menerangi alam semesta, sementara orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu hanya diibaratkan sebagai bintang yang hanya menerangi dirinya sendiri.
4.      Mereka adalah pewaris para nabi, dan cukuplah ini menunjukkan keutamaan mereka.
5.      Dia bisa mengajarkan ilmunya kepada orang lain, yang dengannya pahala akan terus mengalir kepadanya -sampai walaupun dia telah meninggal- selama ilmu yang diajarkan masih diamalkan oleh orang-orang setelahnya.
Kelima perkara ini tidak akan didapatkan oleh orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu (ahli ibadah). Karenanya sangat wajar sekali kalau Allah tidak menyamakan kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu karena mereka adalah mujahid yang memperbaiki dirinya, memperbaiki orang lain, dan melindungi agama Allah dari setiap perkara yang bisa merusaknya, berbeda halnya dengan ahli ibadah yang kebaikannya hanya terbatas pada dirinya.
Bahkan dalam ayat lain Allah memberikan penghargaan secara khusus kepada orang-orang berilmu dalam firmanNya surat Az Zumar: 9

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran"

Imam Az Zamakhsyari mengutip sejumlah hadits yang menunjukkan keutamaan orang-orang berilmu dari orang-orang yang tidak berilmu.
"Jarak antara seorang alim (orang yang berilmu) dan seorang abid (tukang ibadah yang tidak berilmu) adalah seratus derajat/tingkat. Jarak diantara dua tingkat itu adalah perjalanan kuda selama 70 tahun" (HR Abu Ya'la dan Ibnu Adi).
"Keutamaan seorang alim atas seorang abid bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang" (HR Ashabu as-Sunan)
"Pada hari kiamat nanti ada tiga golongan yang akan memberi syafa'at, para nabi, lalu para ulama, lalu para syuhada" (HR Ibnu Majah, Abu Ya'la, Ibnu Adi, al Aqili dan al Baihaqi).

H.      Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Lingkungan
Tantangan bagi ilmuwan muslim berupa perkembangan IPTEK belakangan ini ada yang mengabaikan segi moral yang dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Seharusnya pengembangan IPTEK harus mempertimbangkan segi moral. Terkait dengan hal tersebut maka ilmuwan muslim memiliki tantangan untuk aktif dalam penelitian dan pengembangan ilmu bagi kehidupan umat manusia.
Adapun peradaban modern yang begitu luas memasyarakatkan produk-produk teknologi canggih, seperti televisi, video player, alat-alat komunikasi, dan barang-barang mewah (gadget) lainnya, serta yang menawarkan aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua, muda atau anak-anak yang tentunya alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yg diakibatkannya. Tetapi di atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab adanya berbagai media informasi dan alat-alat canggih yang dimiliki dunia saat ini, dapat berbuat apa saja. Kiranya faktor manusianya-lah yg menentukan opersionalnya. Adakalanya menjadi manfaat, yaitu manakala manusia menggunakan dengan baik dan tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan dosa dan malapetaka, manakala manusia menggunakannya untuk mengumbar hawa nafsu dan kesenangan semata. Memang dalam abad teknologi dan era globalisasi ini, umat Islam hendaklah melakukan langkah-langkah strategis dengan meningkatkan pembinaan sumber daya manusia guna mewujudkan kualitas iman dan takwa, serta tidak ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi terutama mengenai teknologi komunikasi dan teknologi informasi.
    Namun seiring dengan adanya upaya meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia (umat islam) pun harus lebih jeli menentukan pilihan ini. Untuk apakah semua kemajuan itu? Apakah sekadar utk menuruti keinginan-keinginan syahwat, lalu tenggelam dalam kemewahan dunia hingga melupakan akhirat, dan menjadi pengikut-pengikut setan? Ataukah sebaliknya semua ilmu dan kemajuan itu dicari utk menegakkan syariat Allah, guna memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan seperti yg dikehendaki Allah serta untuk meluruskan kehidupan dengan berlandaskan pada kaidah moral Islam. Itulah pertanyaan dan tantangan bagi kita sebagai umat Islam yang harus kita jawab dengan pemikiran yang berwawasan jauh ke depan. Terlepas dari problema dan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana diuraikan di atas, kita sebagai umat Islam harus selalu optimis dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Karena sungguhpun perubahan sosial dan tata nilai kehidupan yang dibawa oleh arus modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi terus-menerus menimpa dan menyerang masyarakat Islam, tetapi kesadaran umat Islam utk membendung dampak-dampak negatif dari budaya Barat itu ternyata masih cukup tinggi, meskipun hanya segolongan kecil umat, yaitu mereka yang tetap teguh untuk menegakkan nilai-nilai Islam.
(http://humasaimansuryamanuinbdg.blogspot.com/2012/06/pandangan-islam-terhadap-perkembangan.html) Manusia/umat islam juga harus bisa menyikapi dalam pemanfaatan teknologi yg ada sekarang dan menjadi pelopor agar generasi umat manusia tidak terjerumus ke hal-hal yg negatif akibat seiring perkembangan IPTEK.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah.
Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Pada mulanya, teknologi tercipta berdasarkan niat dan tujuan dari si pencipta teknologi tersebut. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya serta merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan, keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi.
  Dari uraian di atas dapat dipahami , bahwa peran Islam yang utama dalam perkembangan iptek dan seni  setidaknya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan  Aqidah  Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam  sebagai standar penggunaan iptek dan seni . Jadi , syariah  Islam-lah, bukannya standar manfaat yang  seharusnya di jadikan tolok ukur umat Islam dalam mengaplikasikan iptek dan seni .
Bagi orang-orang yang berilmu, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Jika manusia ingin mendapatkan derajat yang tinggi dari Allah, manusia harus berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuannya dengan keikhlasan dan hanya untuk mencari ridha Allah semata.
Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia.



DAFTAR PUSTAKA

dvyrhma.blogspot.com/2013/01/IPTEK-dan-seni-dalam-islam.html
Oetarjo,  Diran,.1992. Beberapa Catatan Perkembangan IPTEK (Makalah Seminar Pesantren Teknologi 31 Desember 1991). Jakarta: LPTEK PP Muhammadiyah
Rahman, Khalid. 2014. Agama Islam. Power Point (PPT). Malang : Universitas Brawijaya
Rahman, Khalid. 2014. Manusia Dalam Pandangan Islam. Power Point (PPT). Malang : Universitas  Brawijaya
Samsudin, Abdul Ghani ett al. 2001. Seni dalam Islam. Interl Multimedia and Publication
Tim Dosen PAI. Buku Daras : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Pusat Pembinaan Agama (PPA): Universitas Brawijaya
Wati, Mita Erna. 2012. Makalah IPTEK dan Seni Menurut Pandangan Islam.
--.2009. IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM. Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik: Universitas Airlangga.