Pendidikan
Agama Islam
IPTEK DAN SENI
MENURUT PANDANGAN ISLAM
Adziani Hera (125150400111059)
Rannie Fitriya Sari (125150407111002)
Tri Nugroho G. (125150407111003)
Dosen
Pengampu:
Khalid Rahman, S.Pd.I., M.Pd.I
Sistem Informasi
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
2014
BAB I
PENDAHULUHAN
A.
LATAR
BELAKANG
Di
era modern perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh bagi
kehidupan manusia. Perkembangan IPTEK akan terus berkembang dari waktu ke waktu
yang diikuti dengan perkembangan seni. IPTEK dan seni juga sangat berpengaruh
bagi agama, salah satunya agama Islam. Islam sangat memperhatikan IPTEK dan
seni dalam dalam kehidupan umat manusia. Keberadaan IPTEK, seni, dan manusia yang tidak akan pernah bisa
terpisahkan tersebut kemudian memunculkan beberapa dampak terhadap kehidupan
manusia didunia. Baik dampak positif maupun dampak negatif negatif.
Peran Islam dalam perkembangan IPTEK
pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma
ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan
paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan
bahwa aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi
seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti bahwa aqidah Islam sebagai sumber
segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu
pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan aqidah Islam dapat diterima
dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya wajib ditolak dan tidak boleh
diamalkan. Kedua menjadikan syariah Islam (yang lahir dari aqidah Islam)
sebagai standar bagi pemanfaatan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Standar
atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar
manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar
syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan IPTEK, didasarkan pada
ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh
memanfaatkan IPTEK jika telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sebaliknya jika
suatu aspek IPTEK dan seni tersebut telah diharamkan oleh syariah, maka tidak
boleh umat Islam memanfaatkannya walaupun ia dapat menghasilkan manfaat sesaat
untuk memenuhi kebutuhan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian IPTEK dan Seni
Dasar membaca
dalam Islam adalah Iqra’ yang memiliki arti bacalah, telitilah, kajilah, atau
amatilah. Sejak Adam sebagai manusia pertama dicipta telah dilengkapi dengan
ilmu pengetahuan “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segalanya” {QS.2
Al Baqarah: 31}. IPTEK diberikan kepada manusia untuk mampu mengelola dunia
agar mampu berinteraksi dengan lingkungan.
Definisi IPTEK sebagai singkatan
dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah pengetahuan yang
didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu
tingkah laku sistem.(http://intanayuda8.wordpress.com/2013/05/13/ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-html/). Dalam
sudut pandang filsafat ilmu, ilmu dengan pengetahuan sangat berbeda
maknanya. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan,
disistemasi dan di interpretasikan sehingga menghasilkan kebenaran obyektif
serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah, sedangkan Pengetahuan adalah
apa saja yang diketahui oleh manusia baik melalui panca indra, instuisi,
pengalaman maupun firasat. Jadi Ilmu pengetahuan adalah
himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan
dapat dinalar serta diterima oleh akal. (http://yanaazhari.blogspot.com/)
Sedangkan menurut pandangan Islam, Al-Qur’an mengundang kita untuk
menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Manusia
dituntut untuk mengembangkan akal pikirannya dengan mencari ilmu pengetahuan. Ada dua sumber ilmu, yaitu akal dan wahyu. Kedua
sumber ilmu tersebut tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan
mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasul.
Dalam sudut pandang
budaya dan teknologi merupakan salah satu unsure budaya sebagai hasil penerapan
praktis dari ilmu pengetahuan. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa
kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia dan sebaliknya dapat membawa dampak negatif
berupa kesusahan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat
kehancuran alam semesta. Atas dasar itulah Islam
mewajibkan menuntut Ilmu.
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan
muslimat.” (HR. Ibnu Abdul Barr)
Bahkan dalam Islam menuntut ilmu
itu dilakukan tanpa batasan atau jangka waktu tertentu, ilmu mesti dilakukan
sejak dalam buaian hingga ke liang lahad. Rasulullah bersabda:
“Tuntutlah ilmu dari dalam buaian
hingga ke liang lahad”
Pesatnya
perkembangan Sains dan Teknologi semakin terasa dari hari ke hari. Banyak hasil
dari perkembangan Sains dan Teknologi yang tadinya diluar angan-angan manusia
sudah menjadi keperluan harian manusia. Kita mengakui bahwa sains dan
teknologi memang telah mengambil peranan penting dalam pembangunan peradaban
material atau lahiriah manusia. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Imron
190-191 :
Artinya: ”Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,
Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.
Dari ayat ini dapat kita lihat,
bahwa melalui pengamatan, kajian dan pengembangan sains dan teknologi, Allah
menghendaki manusia dapat lebih merasakan kebesaran, kehebatan dan keagungan-Nya.
Betapa hebatnya alam ciptaan Allah yang kebesaran dan keluasannya-pun manusia
belum sepenuhnya mengetahui, maka sudah tentu Maha hebat lagi Allah yang
menciptakannya.
Seni dari segi makna literal
ialah halus, indah atau permai. Definisi umum seni adalah segala macam
keindahan yang diciptakan oleh manusia. Seni
adalah sebuah keindahan yang dapat mengungkap rasa sampai jauh ke dalam jiwa
seseorang. (http://mirabiela.wordpress.com/2008/10/10/pengertian/)
Jadi, apabila pernah merasakan sebuah getaran keindahan yang begitu dalam dan
membuat kita tidak dapat lagi melupakannya maka artinya kita sudah dapat
menangkap arti kata seni dalam arti yang sebenarnya. Kata seni berasal dari kata sani yang kurang lebih berarti jiwa yang
luhur atau ketulusan jiwa.
Pandangan
Islam tentang seni merupakan ekspresi keindahan yang dilekatkan dengan sifat Allah
SWT. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh
jagat raya dengan segala keserasian dan keindahan. Allah berfirman dalam surat
Al-Qaaf ayat 6 :
“Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang
ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada
baginya sedikit pun retak-retak?” [QS
50: 6].
B. Sejarah dan Perkembangan Seni
Dalam perkembangannya, Islam merupakan Agama yang tidak
hanya membawa tuntunan untuk beribadah dengan Allah SWT, melainkan Islam juga
membawa pengaruh budaya dan seni. Kesenian dan kebudayaan Islam adalah bentuk
kesinambungan dari kesenian pada zaman silam yang telah berkembang dan dicorakkan
oleh konsep tauhid yang tinggi kepada Allah SWT. Kesenian Islam memiliki
khazanah sejarahnya yang tersendiri dan unik. Kesenian Islam dikatakan telah
berkembang sejak zaman Nabi Daud AS dan puteranya Nabi Sulaiman AS dan terus
berkembang di zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian di zaman selepas kewafatan Nabi.
Sampai sekarang kesenian Islam terus berkembang di dalam bentuk dan falsafahnya
yang berorientasikan sumber Islam yang menitikberatkan kesejajaran dengan
tuntutan tauhid dan syara’. (http://imammorati23.wordpress.com/2011/05/16/konsep-pengembangan-budaya-dan-seni-menurut-islam/)
C.
Sikap Islam Terhadap Seni
Pada dasarnya,
sesuatu yang indah itu disukai oleh Allah karena Dia Dzat yang Maha Indah dan
menyukai yang indah. Islam mempunyai kriterianya sendiri untuk dijadikan
sebagai pengukur atau pedoman bagi menentukan halal atau haramnya sesuatu karya
seni itu. Kriteria pertama ialah seni atau karya seni itu harus baik, tidak
merusakkan budi pekerti yang mulia serta tidak melalaikan orang dari beribadah
dan mengingat Allah. Kriteria kedua atau kriteria yang tidak diperbolehkan
ialah seni yang dapat merusakkan moral, melalaikan diri dari beribadah kepada
Allah dan sekaligus melupakan-Nya. ( http://www.slideshare.net/AchmadZain/pandangan-seni-dalam-islam)
D.
Ciri-Ciri Kesenian Islam
Seni dijadikan
sebagai alat menyebarkan agama dan memperkukuh amal kebajikan dan kebaikan
dikalangan ummah. Hasil seni boleh menjadi faktor pendorong yang intensif bagi
mengingati dan memuji Allah. Daya seni yang dikarunialan oleh Allah adalah
bertujuan untuk menimbulkan keikhlasan dan kesedaran dalam diri manusia.
Menurut perspektif Islam, daya kreatif seni adalah dorongan atau desakan yang
diberikan oleh Allah yang perlu digunakan sebagai bantuan untuk memeriahkan
kebesaran Allah.
(http://pt.slideshare.net/coemaaripin/seni-dalam-islam-28561766)
E. Paradigma Hubungan Agama dan IPTEK
Peran Islam dalam perkembangan IPTEK pada dasarnya
ada 2 (dua). Pertama, menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu
pengetahuan. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa aqidah Islam wajib dijadikan
landasan pemikiran (qa’idah fikriyah)
bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang
lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan
sehari-hari. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan
iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam).(
http://akharil.blogspot.com/2010/03/iptek-menurut-pandangan-islam.html)
Manusia menjadi
khalifah memegang mandat dari Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi.
Manusia diberi wewenang kebebasan memilih dan menentukan,
sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis dan penuh tanggung
jawab.
Manusia sebagai keturunan Adam adalah khalifah atau
manajer di bumi “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat
sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi; Mereka menjawab
mengapa Kau akan menjadikan Adam/manusia sebagai khalifah di muka bumi padahal
cendrung membuat kerusakan dan peperangan, sementara kami selalu mensucikan dan
memuji Kau; Tuhan menjawab Aku lebih tahu apa yang kau tak ketahui” (QS. 2
Al Baqarah ; 30), terkait dengan kedudukan dan tugas manusia sebagai pengelola
di bumi.
IPTEK adalah kelengkapan
hidup manusia agar mampu dengan mudah mengelola dunia sesuai dengan kedudukan manusia
sebagai khalifah. Berkembang atau tidaknya IPTEK sangat bergantung pada
keberanian manusia untuk mengkaji ilmu pengetahuan berdasarkan Al-Qur’an. Ilmu
pengetahuan teknologi (IPTEK) dalam Islam, Allah memerintah agar manusia mau
membaca fenomena alam “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dialah
yang menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha
Pengasih; Yang mengajar dengan perantaraan baca-tulis; Dan mengajarkan manusia
segala yang tidak diketahuinya” ( QS. 96 Al ‘Alaq: 1-5).
F. Integrasi Iman, IPTEK, dan Seni
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis
yang terintegrasi dalam suatu sistem yg disebut dinul Islam. Di dalamnya terkandung
tiga unsur pokok yaitu akidah, syariah, dan akhlak (iman, ilmu, dan amal
shalih). Sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim (14:24-25)
Artinya: “Tidakkah
kamu perhatikan Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik(Dinul Islam)
seperti sebatang pohon yg baik,akarnya kokoh(menghujam ke bumi)dan cabangnya
menjulang ke langit”.
Ayat di atas menganalogikan
bangunan Dinul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik, iman diidentikkan
dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu
diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan
dahan-dahan/ cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah
dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni.
Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas
dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah akan memberikan jaminan kebaikan bagi
kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Pengembangan IPTEK dan
seni yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak
akan menghasilkan manfaat bagi umat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan
menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.( http://afindonesia.com/iman-ipteks-dan-akal/).
G. Keutamaan Orang Berilmu
Dalam hadits-hadits Rasulullah
SAW, beliau tidak pernah meminta kepada Allah untuk ditambahkan kepada beliau
kecuali ilmu.
Selain itu, dalam surah Az-Zumar:
9 dan Al-Hasyr: 20, Allah membandingkan antara orang yang mengetahui dengan
orang yang tidak mengetahui dan ahli surga dengan ahli neraka dengan redaksi
yang mirip. Hal ini menunjukkan bahwa beda derajat orang yang berilmu dengan
orang yang tidak berilmu adalah sama dengan beda derajat ahli surga dengan ahli
neraka.
Tidurnya orang yang berilmu lebih
ditakuti daripada sholatnya orang yang tidak berilmu. Hal ini bisa terjadi
karena tidurnya orang yang berilmu pastilah bertujuan untuk istirahat agar dia
mampu beribadah lagi kemudian. (
http://matasalman.com/keutamaan-orang-yang-berilmu/
)
“Sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka
barangsiapa yang telah mengambilnya, maka
telah mengambil bagian yang banyak" (HR. Abu Dawud dan
At-Tirmidzi).
Imam Syafi’i pernah berkata “Menuntut
ilmu lebih afdhol daripada shalat nafil (shalat tahajjud)”.
Tentang keutamaan orang yang berilmu, di dalam Al-Qur’an surat Al
Mujadalah:11, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang
beriman dan berilmu. Derajat yang diberikan Allah berupa kemuliaan pangkat,
kedudukan, jabatan, harta dan kelapangan hidup.
Dan kelebihan mereka yang beriman
lagi berilmu dibandingkan orang yang beriman tapi tidak berilmu sangat nampak
dalam hadits Abu Ad-Darda` di atas yaitu (http://al-atsariyyah.com/keutamaan-ilmu.html) :
1. Dia
akan dinaungi oleh para malaikat dengan sayap-sayap mereka.
2. Segala sesuatu akan memintaampunkan dosanya kepada Allah
mulai makhluk yang berada di bawah lautan sampai makhluk yang ada di atas
langit (para malaikat).
3. Dia diibaratkan sebagai bulan yang menerangi alam semesta, sementara
orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu hanya diibaratkan sebagai bintang
yang hanya menerangi dirinya sendiri.
4. Mereka adalah pewaris para nabi, dan cukuplah ini menunjukkan keutamaan
mereka.
5. Dia bisa mengajarkan ilmunya kepada orang lain, yang dengannya pahala
akan terus mengalir kepadanya -sampai walaupun dia telah meninggal- selama ilmu
yang diajarkan masih diamalkan oleh orang-orang setelahnya.
Kelima perkara ini tidak akan
didapatkan oleh orang yang hanya beriman tapi tidak berilmu (ahli ibadah).
Karenanya sangat wajar sekali kalau Allah tidak menyamakan kedudukan orang yang
berilmu dengan orang yang tidak berilmu karena mereka adalah mujahid yang
memperbaiki dirinya, memperbaiki orang lain, dan melindungi agama Allah dari
setiap perkara yang bisa merusaknya, berbeda halnya dengan ahli ibadah yang
kebaikannya hanya terbatas pada dirinya.
Bahkan dalam ayat lain Allah
memberikan penghargaan secara khusus kepada orang-orang berilmu dalam firmanNya
surat Az Zumar: 9
"Katakanlah: Apakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?
Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran"
Imam Az Zamakhsyari mengutip
sejumlah hadits yang menunjukkan keutamaan orang-orang berilmu dari orang-orang
yang tidak berilmu.
"Jarak antara seorang alim
(orang yang berilmu) dan seorang abid (tukang ibadah yang tidak berilmu) adalah
seratus derajat/tingkat. Jarak diantara dua tingkat itu adalah perjalanan kuda
selama 70 tahun" (HR Abu Ya'la dan Ibnu Adi).
"Keutamaan seorang alim atas
seorang abid bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh
bintang-bintang" (HR Ashabu as-Sunan)
"Pada hari kiamat nanti ada
tiga golongan yang akan memberi syafa'at, para nabi, lalu para ulama, lalu para
syuhada" (HR Ibnu Majah, Abu Ya'la, Ibnu Adi, al Aqili dan al Baihaqi).
H. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Lingkungan
Tantangan bagi ilmuwan muslim berupa perkembangan IPTEK
belakangan ini ada yang mengabaikan segi moral yang dapat membawa dampak
negatif bagi kehidupan manusia. Seharusnya pengembangan IPTEK harus
mempertimbangkan segi moral. Terkait dengan hal tersebut maka ilmuwan muslim
memiliki tantangan untuk aktif dalam penelitian dan pengembangan ilmu bagi
kehidupan umat manusia.
Adapun peradaban modern yang begitu luas
memasyarakatkan produk-produk teknologi canggih, seperti televisi, video
player, alat-alat komunikasi, dan barang-barang mewah (gadget) lainnya, serta
yang menawarkan aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua, muda atau anak-anak
yang tentunya alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yg diakibatkannya.
Tetapi di atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab
adanya berbagai media informasi dan alat-alat canggih yang dimiliki dunia saat
ini, dapat berbuat apa saja. Kiranya faktor manusianya-lah yg menentukan opersionalnya.
Adakalanya menjadi manfaat, yaitu manakala manusia menggunakan dengan baik dan
tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan dosa dan malapetaka, manakala manusia
menggunakannya untuk mengumbar hawa nafsu dan kesenangan semata. Memang dalam
abad teknologi dan era globalisasi ini, umat Islam hendaklah melakukan
langkah-langkah strategis dengan meningkatkan pembinaan sumber daya manusia
guna mewujudkan kualitas iman dan takwa, serta tidak ketinggalan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi terutama mengenai teknologi komunikasi dan teknologi
informasi.
Namun seiring dengan adanya upaya meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia (umat islam) pun harus lebih jeli menentukan pilihan ini. Untuk apakah semua kemajuan itu? Apakah sekadar utk menuruti keinginan-keinginan syahwat, lalu tenggelam dalam kemewahan dunia hingga melupakan akhirat, dan menjadi pengikut-pengikut setan? Ataukah sebaliknya semua ilmu dan kemajuan itu dicari utk menegakkan syariat Allah, guna memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan seperti yg dikehendaki Allah serta untuk meluruskan kehidupan dengan berlandaskan pada kaidah moral Islam. Itulah pertanyaan dan tantangan bagi kita sebagai umat Islam yang harus kita jawab dengan pemikiran yang berwawasan jauh ke depan. Terlepas dari problema dan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana diuraikan di atas, kita sebagai umat Islam harus selalu optimis dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Karena sungguhpun perubahan sosial dan tata nilai kehidupan yang dibawa oleh arus modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi terus-menerus menimpa dan menyerang masyarakat Islam, tetapi kesadaran umat Islam utk membendung dampak-dampak negatif dari budaya Barat itu ternyata masih cukup tinggi, meskipun hanya segolongan kecil umat, yaitu mereka yang tetap teguh untuk menegakkan nilai-nilai Islam.
Namun seiring dengan adanya upaya meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia (umat islam) pun harus lebih jeli menentukan pilihan ini. Untuk apakah semua kemajuan itu? Apakah sekadar utk menuruti keinginan-keinginan syahwat, lalu tenggelam dalam kemewahan dunia hingga melupakan akhirat, dan menjadi pengikut-pengikut setan? Ataukah sebaliknya semua ilmu dan kemajuan itu dicari utk menegakkan syariat Allah, guna memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan seperti yg dikehendaki Allah serta untuk meluruskan kehidupan dengan berlandaskan pada kaidah moral Islam. Itulah pertanyaan dan tantangan bagi kita sebagai umat Islam yang harus kita jawab dengan pemikiran yang berwawasan jauh ke depan. Terlepas dari problema dan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana diuraikan di atas, kita sebagai umat Islam harus selalu optimis dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Karena sungguhpun perubahan sosial dan tata nilai kehidupan yang dibawa oleh arus modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi terus-menerus menimpa dan menyerang masyarakat Islam, tetapi kesadaran umat Islam utk membendung dampak-dampak negatif dari budaya Barat itu ternyata masih cukup tinggi, meskipun hanya segolongan kecil umat, yaitu mereka yang tetap teguh untuk menegakkan nilai-nilai Islam.
(http://humasaimansuryamanuinbdg.blogspot.com/2012/06/pandangan-islam-terhadap-perkembangan.html)
Manusia/umat
islam juga harus bisa menyikapi dalam pemanfaatan teknologi yg ada sekarang dan
menjadi pelopor agar generasi umat manusia tidak terjerumus ke hal-hal yg
negatif akibat seiring perkembangan IPTEK.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu pengetahuan adalah segala
sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan
firasat yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan
diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji
kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah.
Teknologi dibuat atas dasar ilmu
pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Pada mulanya,
teknologi tercipta berdasarkan niat dan tujuan dari si pencipta teknologi
tersebut. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala
prosesnya serta merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut
berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan,
keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Seni yang lepas dari
nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan
akal dan budi.
Dari uraian di atas dapat dipahami , bahwa peran Islam yang utama dalam
perkembangan iptek dan seni setidaknya
ada 2 (dua). Pertama, menjadikan
Aqidah Islam sebagai paradigma
pemikiran dan ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam sebagai standar penggunaan iptek dan seni .
Jadi , syariah Islam-lah, bukannya
standar manfaat yang seharusnya di
jadikan tolok ukur umat Islam dalam mengaplikasikan iptek dan seni .
Bagi
orang-orang yang berilmu, Allah
menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Jika
manusia ingin mendapatkan derajat yang tinggi dari Allah, manusia harus
berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuannya
dengan keikhlasan dan hanya untuk mencari ridha Allah semata.
Allah
memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan
potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu
didorong oleh nafsu amarah. Manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara
alam, agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
dvyrhma.blogspot.com/2013/01/IPTEK-dan-seni-dalam-islam.html
Oetarjo, Diran,.1992. Beberapa Catatan Perkembangan
IPTEK (Makalah Seminar Pesantren
Teknologi 31 Desember 1991). Jakarta: LPTEK PP Muhammadiyah
Rahman,
Khalid. 2014. Agama Islam. Power Point (PPT). Malang : Universitas Brawijaya
Rahman, Khalid. 2014. Manusia Dalam
Pandangan Islam. Power Point (PPT). Malang : Universitas Brawijaya
Samsudin, Abdul Ghani ett al. 2001. Seni
dalam Islam. Interl Multimedia and Publication
Tim
Dosen PAI. Buku Daras : PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM. Pusat Pembinaan Agama (PPA): Universitas Brawijaya
Wati, Mita Erna. 2012. Makalah IPTEK
dan Seni Menurut Pandangan Islam.
--.2009.
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM. Departemen
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik: Universitas Airlangga.






